Jangan Ragu Untuk Memulai, Jangan Takut Untuk Mengakhiri Dan Jangan Lelah Untuk Mencari

Tempatkan Senyum Dalam Setiap Langkah

Sinari Amal Dengan Niat Ikhlas

Yakinlah! Semua Akan Indah Pada Waktunya

Karena Orang Yang Paling Bahagia Di Dunia Ini Adalah Orang Yang Bisa Menciptakan Kebahagiaan

MUSLIMAH

MUSLIMAH

Jumat, 19 Oktober 2012

My Dakwah....



Sepenggal kisah ini kupersembahkan untuk saudara-saudariku yang sedang berjuang menuntut ilmu di negeri rantau
Berharap kisah ini bisa membawa kalian menjelajahi, merasakan dan memetik banyak hikmah, berkah serta kebaikan dari pengalaman hidup sebagai orang asing
Simaklah kisah, tentang....


HIJRAHKU

H
idup adalah perjuangan. Benar! Hari itu aku datang sebagai orang baru di tanah yang baru. Awal hidup yang terik kumulai di negeri rantau ini. Makassar. Nama kota itu sangat familiar namun liar. Kota bagiku adalah hal yang asing. Sangat asing. Aku sendiri berasal dari tempat yang jaraknya berpuluh-puluh mil dari bumi tempatku berpijak sekarang. Perlu perjuangan keras melawan beribu ombak dan terpaan badai yang sesekali berkunjung di tengah lautan. Aku datang dari sebuah pulau mungil yang terkenal dengan panorama alamnya yang Subhanallah indah... Ternate. Itulah nama daerah kelahiranku yang selama ini selalu kubangga-banggakan.
Sebelum keberangkatanku ke Makassar, aku sempat mengalami beberapa problema hidup. Mulai dari orang tua yang masih ragu melepasku hingga berbagai prasangka yang beredar di kalangan warga kampung. Aku yang kata orang masih ingusan seperti semut mana mungkin dapat bertahan di belantara yang dipenuhi pemangsa seperti kota Makassar. Tapi tahukah kawan? Dari sekian banyak makhluk belantara, semut kecillah yang tak pernah dilirik sedikit pun oleh harimau yang ganas, buaya yang kelaparan, serigala yang mengaung ataupun predator lainnya. Semut kecil terjaga karena kecerdasan, ketenangan dan kerja samanya dengan kawanannya. Dengan segala harap, aku sangat ingin menjadi semut itu. Walaupun aku terlahir sendiri di belantara ini, tapi aku yakin akan menemukan kawananku kelak. Aku akan mencari mereka. Aku punya tekad yang kuat. Dan kurasa itu adalah awal yang baik. Yah, itu lebih dari cukup buatku.
Pada akhirnya optimisme mengantarkanku pada kerelaan orang tua melepasku untuk menuntut ilmu di rantau orang. Awal September 2009 merupakan langkah awal dan lembaran baru bagi kehidupanku di dunia kampus. Aku berhasil lulus dalam tes tertulis, wawancara dan kesehatan yang ujiankan oleh pihak institusi. Aku memilih program studi favoritku, DIII Farmasi.
Seperti kampus-kampus lain, sebelum benar-benar resmi menjadi mahasiswa di kampus, rintangan pertama yang harus aku lalui adalah ospek. Kata itu begitu seram terdengar di telinga para Maba. Berbagai cerita dan pengalaman dari senior-senior cukup membuat bulu kuduk merinding. Ngeri! Aku mencoba menabahkan diri. Jalan ini adalah pilihanku, apapun yang terjadi aku memiliki tanggungjawab terhadap diriku sendiri. Tapi apa yang terjadi selanjutnya benar-benar di luar dugaan. Aku tak pernah merasakan perasaan selega ini. Saat ospek, tak seorang pun dari seniorku yang berani menyentuh ataupun melakukan hal tak senonoh terhadap para Maba. Subhanallah.. Sangat jauh dari prasangka burukku. Aku tahu telah berdosa kepada mereka. Maaf kakak... Kupandangi wajah-wajah teduh mereka satu per satu. Dari mata mereka tersirat sebuah cahaya yang menyilaukan hati. Dari tutur kata mereka terdapat sebuah bahasa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ternyata di belantara ini, ada sekawanan semut yang serupa denganku. Aku penasaran.
Seminggu kemudian, aku kembali bertemu dengan sosok-sosok itu. Mereka memasuki kelas-kelas Maba untuk mengajak kami bersilaturahmi dengan mereka. Senyum itu nampak lagi. Senyum dari wajah anggun perempuan berpakaian longgar dengan jilbab yang menjuntai panjang. Senyum dari wajah tenang laki-laki berjenggot dengan celana menggantung di atas tumit. MasyaAllah..
Mau! Tentu saja aku mau memenuhi undangan mereka. Undangan untuk bersilaturahim bersama aktivis dakwah kampus. Walaupun kata ‘dakwah’ itu sedikit membuatku ‘alergi’ tapi jika bersama mereka, aku mau. Maka kudatangi tempat yang menjadi sasaran kegiatan silaturahim itu. Sambil duduk tenang sendiri aku menanti satu per satu peserta datang. Jumlahnya lumayan juga. Acara pun dimulai beberapa menit kemudian. Di awali dengan pembukaan hingga materi singkat yang menarik dan menggetarkan hati. Pada akhirnya tibalah saat pembagian yang kata kakak-kakak itu adalah lingkaran-lingkaran ajaib. Lingkaran majelis. Lingkaran tarbiyah. Aku masih ingat. Waktu itu aku masih Amma dan tidak paham agama sama sekali, namun aku  memberanikan diri untuk bergabung. Awalnya aku hanya merasa tentram ketika berada di dekat mereka, terutama di dekat kakak senior akhwat yang nantinya menjadi murabbi atau guruku. Tanpa kusadari, ternyata inilah awal langkahku menemukan kawanan yang selama ini kucari-cari. Kawanan semut. Kawanan dakwahku.
Perlahan-lahan aku mulai mempelajari Islam lebih dalam bersama mereka. Aku mulai mengerti betapa urgennya shalat. Hal yang selama ini paling sulit kukerjakan dan paling banyak bolongnya. Dengan sedikit ide gila yang tiba-tiba menjelma di kepalaku, aku mengambil inisiatif untuk menuliskan sebuah kata motivasi berukuran besar di depan pintu kamarku. Bunyinya seperti ini, “Ingat shalat 5 waktu! Kalau tidak, ingat iblis berkumpul di hati dan pikiran. Waspada, aura jahat menyerangmu!” Aku tidak tahu apakah peringatan itu menyeramkan atau sebaliknya malah menggelikan. Yang pasti setiap orang yang membacanya akan terkekeh. Tapi itu menjadi penyemangat bagiku. Teguran dari makhluk tak bernyawa. Karenanya, sedikit demi sedikit aku mulai memperhatikan shalatku. Selanjutnya anjuran murabbiku untuk melaksanakan amal yaumiyah. Loh, apa lagi itu? Amal yaumiyah adalah amalan sunnah harian. Shalat tahajud, shalat dhuha, puasa senin-kamis, sedekah, sampai tilawah Al-Qur’an. Pada mulanya terasa semakin berat untuk melakukan itu semua dan hampir aku berputus asa. Tapi kemudian, segaris kalimat dilontarkan dan sempat terlintas di telingaku. “Amal ibadah wajib menunjukkan ketaatanmu kepada Rabb, akan tetapi amal ibadah sunnah menunjukkan kecintaanmu kepada-Nya (kepada Allah SWT). Karena tidak banyak orang yang akan melaksanakan amalan sunnah itu, dari sisi itulah Dia melihat kesungguhan cinta hamba-Nya kepada-Nya.” Subhanallah.. Hatiku terketuk lagi. Ya Allah, akan kubuktikan cinta murniku kepada-Mu.
Dari segi pakaian, aku yang pada dasarnya sangat tidak care dengan benda bernama rok perlahan-lahan mulai mengenakannya. Bajuku yang dulunya ketat mulai kulonggarkan. Jilbab yang mulanya hanya kupakai sebagai hiasan kepala, kini telah menjadi bagian penting dari kepala dan auratku. Aku juga telah menjulurkannya hingga menutupi dada. Kakiku yang awalnya hanya dibalut sepatu karet, sekarang sudah mulai tertutupi oleh kaos kaki sebetis. Dengan perubahanku, aku belum berani mengatakan diriku sebagai akhwat sempurna. Bagaimanapun juga manusia tetaplah mempunyai kekurangan. Tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik.
Hari demi hari telah kulalui di medan juang ini. Semangatku tetap membara dan semakin berkobar di kala aku menerima undangan pembentukan kepanitiaan untuk melaksanakan program kerja dan agenda dakwah selanjutnya. Walaupun sempat kewalahan memanage waktu antara kegiatan akademik dan organisasi, tapi alhamdulillah, Allah selalu punya kejutan unik untuk hamba-Nya. Dialah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk makhluk kesayangan-Nya ini. Terkadang aku menerima kritikan dari teman-temanku. Katanya, “Untuk apa berorganisasi? Itu hanya membuang-buang waktu. Belum lagi hanya kelelahan yang akan kau dapatkan. Lalu bagaimana dengan tugas-tugas kuliah yang kau telantarkan?” Menerima ungkapan itu, aku hanya tersenyum. Belum tahu dia ukhuwah kami. Justru aku akan merasa sangat terpuruk ketika sehari saja tidak menatap senyum tulus mereka, tidak berbagi cerita dengan mereka, tidak mendengar tauzih menentramkan dan banyak lagi hal menarik tentang dakwah tercinta ini. Mereka adalah keluarga, sahabat sekaligus penguat di saat dunia tak berpihak kepadaku, menjadi sandaran ketika pundak ini mulai melemah, menjadi tongkat saat kaki letih ini tak mampu berpijak, menjadi penenang ketika derai air mata bercucuran tak  berdaya.
Aku bukannya ingin menyombongkan diri maupun teman-teman dakwahku. Tapi fakta berbicara, selama ini yang kulihat kebanyakan dari golongan kamilah yang mengukir prestasi-prestasi gemilang dari sudut akademik maupun non akademik. Bahkan diantara senior-senior yang telah menamatkan pendidikannya, ada beberapa orang yang berhasil mencapai predikat KUMLAUD saat wisuda.
Memang! Menjadi seorang aktivis dakwah bukanlah hal mudah, tapi juga tidak sulit. Bukan hal mudah karena dia membutuhkan pengorbanan. Mulai dari harta, jiwa, raga, waktu, pikiran bahkan perhatian kita. Namun juga tidak sulit karena dakwah adalah pekerjaan cinta. Orang yang sedang jatuh cinta, segalanya akan menjadi lebih mudah baginya. Cinta kepada yang makruf. Cinta kepada Allah SWT., Rasulullah SAW., dan perkataan beliau berdua (Al-Qur’an & As-Sunnah). Dan tentu saja yang menjadi pekerjaan cinta nomor satu adalah misi kemanusiaan. Misi lanjutan dari perjuangan para sahabat dan sahabiyah. Atas semua berkah dan nikmat ukhuwah ini, kami sangat bersyukur. Dan rasa syukur itu kami tuangkan dalam bentuk ajakan kepada saudara-saudari seiman kami untuk lebih mengenal Islam dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Namun dari semua kisah indah yang kualami di jalan dakwah, masih ada sesuatu yang mengganjal hatiku. Ada seseorang yang membuatku kecewa. Dulunya dia adalah seorang ikhwan yang berasal dari pesantren, kakak senior pertama yang mengajakku menapaki jalan dakwah ini, seseorang yang dulu ku kagumi. Dialah sepupuku, Kak Akmal. Aku tak tahu mengapa kini dia berubah. Langkah kakinya perlahan-lahan mulai sirna menjauhi jalan suci ini. Jejak kakinya tak lagi tampak, semangat juang dan teriakan takbirnya tak lagi membahana di sudut-sudut dinding Mesjid Kampus. Jika diibaratkan sebagai sebuah pohon, dia sudah tumbang diterpa angin kefuturan.
Sekarang aku sudah jarang melihatnya menghadiri majelis-majelis ilmu dan tak lagi hadir di lingkupan lingkaran ajaibnya. Pernah suatu ketika aku melihatnya sedang asyik berkumpul dengan beberapa orang temannya. Di saat yang bersamaan, adzan maghrib pun mulai berkumandang. Aku mencoba memperhatikannya. Dia tetap asyik dengan canda tawanya. Dia tidak lagi mempedulikan panggilan Surga itu, padahal dulu, jauh sebelum salawat untuk shalat terdengar, punggung tegapnya sudah terlihat mengisi shaf-shaf Masjid yang masih kosong. Innalillah...
Entah apa yang menyebabkan dia menjadi orang yang benar-benar asing dimataku. Asing di mata jamaah kami. Dia bukan kakak yang dulu selalu memberiku wejangan motivasi, bukan kakak yang selalu mengingatkan di kala aku lalai. Rasanya aku ingin membangunkannya dari mimpi buruk itu. Entahlah... aku masih bertanya-tanya. Apakah fatamorgana dunia begitu kuat menyilaukan mata hatinya? Ataukah dia kecewa dengan jamaah ini? Atau ada bisikan dahsyat iblis yang merasuki palung nuraninya hingga mampu membuatnya terlena bersama orang-orang Amma di luar sana? Entahlah... aku masih bertanya-tanya. Dan menunggu jawaban untuk itu.
Ya Rabb yang menguasai seluk-beluk kehidupan dan Maha membolak-balikkan hati. Sebuah doa tercurah kepada-Mu, terkhusus untuk saudara-saudari seimanku. Mohon, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (Karunia).” (QS. Ali Imran:8)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘ Ashr:1-3)
Untuk kakakku, kami masih mengharapkan senyum dan semangatmu di medan juang ini. Aku, mereka dan dakwah ini siap merangkulmu kembali. Untuk diriku sendiri, aku berharap keistiqomahan ini tetap tertancap di relung hatiku. Jazakumullah khairan katsiran for akhi wa ukhtifillah yang selama ini telah berjuang bersama di jalan dakwah ini. Tanpa kalian dan hidayah Allah, aku hanyalah seekor semut kecil yang terlantar dan tersesat di tengah penatnya kehidupan dunia.


Aku menceritakan kisah ini bukan untuk menjadi petuah bagi kalian, melainkan petunjuk
Ketahuilah saudaraku
Ketahuilah saudariku
Kalian tidak sendiri di negeri rantau ini
Kami ada bersama kalian
Kami ada untuk menemani setiap hembusan napas kalian, setiap pijakan kaki kalian, setiap air mata haru kalian, setiap canda tawa kalian, setiap keluh kesah kalian
Jangan sungkan berbagi dengan kami
Kami ada untuk kalian dan kalian ada untuk kami
Mari kita bersama menyatukan langkah menuju ridho, cinta dan surga-Nya
TAKBIR!!!

Selasa, 05 Juni 2012

INSPIRASI DARI KAWANKU




Pernah suatu ketika takdir mengiringku pada sebuah kisah yang akan selalu menjadi pengalaman berharga sepanjang hidupku. Kisahku ini berawal dari seorang kawan yang kukenal saat pertama kali menjajahkan kaki di Sekolah Menengah Atas. Dia adalah salah seorang yang menginspirasiku untuk menjadi penulis. Namanya, Dedy Arman. Dari namanya saja sudah bisa ditebak kalau dia seorang laki-laki. Yah, dialah laki-laki pertama yang akrab denganku dan sudah kuanggap sebagai saudara sendiri. Aku masih ingat ciri-cirinya. Dia memiliki postur tubuh jangkung dan sangat langsing alias kurus, warna kulit agak gelap, mata bulat sayu, dan jari-jari panjang yang setiap harinya dia gunakan untuk menarik pipiku hingga aku meringis. Dia juga sering menegurku karena aku suka makan banyak. Padahal jika diperhatikan, napsu makan yang sebesar raksasa tidak seharusnya dimiliki oleh kurcaci sepertiku. Dia kadang menertawaiku karena hal ini.
Tapi dibalik kejailannya, ternyata dia adalah pesaing yang tangguh dan cerdas. Itu terbukti dari keberhasilannya menduduki jabatan sebagai wakil ketua kelas dan peringkat satu pun berada dalam genggamannya. Masih banyak hal menarik darinya yang tidak mampu kutorehkan dalam tulisan ini. Karena mengenang itu semua rasanya membuatku ingin meneteskan air mata. Kalian tahu, kenapa aku mengatakan, “aku hanya bisa mengenang”? Yah, karena kawanku ini telah tiada. Dia telah kembali ke pangkuan-Nya.
Hari itu, seminggu setelah pengumuman peringkat di kelas, kami mengadakan upacara. Menurut isu yang beredar di kalangan teman-temanku, lima murid yang mendapatkan peringkat tertinggi di kelas akan ditransmigrasikan ke kelas unggulan. Saat nama-nama itu disebutkan tidak sedikit dari teman-temanku yang menangis, begitu juga aku. Rani dan aku dipindahkan ke kelas X.2, sedangkan Dedy dan Ana dipindahkan ke kelas X.1. Kami sempat melayangkan protes kepada guru-guru karena kami tidak ingin berpisah dengan teman-teman kami di kelas yang lama. Tapi aspirasi kami ditolak. Inilah ketentuan yang harus ditaati semua warga sekolah.
Mulai saat itu, keakrabanku dengan Dedy memudar. Komunikasi kami juga berkurang. Dan ketika berpapasan di jalan pun kami hanya tersenyum tanpa bertegur sapa. Hingga terakhir kudengar kabar bahwa dia sedang sakit dan aku tidak pernah menjenguknya sekalipun karena terlalu sibuk dengan tugas sekolah dan ulangan harianku. Sampai suatu sore, aku menerima pesan singkat yang sangat mengejutkan dari temanku. Dedy telah berpulang ke Rahmatullah karena menderita penyakit hemofili. Aku terdiam. Aku merasa dadaku sangat sesak. Aku tidak tahu apakah aku terlalu sedih sehingga tidak mampu meneteskan air mata.
Keesokan harinya, aku dan teman-temanku ke rumahnya untuk melayat. Air mataku meluap saat melihat tubuh jangkungnya terbaring kaku, wajahnya yang tak lagi menertawaiku saat makan banyak dan jari-jari tangannya yang tak mungkin mencubit pipiku lagi. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku merasa sangat kehilangan sosok yang selama ini sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Hari yang kelam itupun berakhir di pemakaman dan ditutup oleh malam yang penuh dengan taburan bintang.
Beberapa hari kemudian, aku dan teman-temanku kembali mendatangi rumah duka. Di sana kami disambut ramah oleh ibu dan kakak perempuan Dedy. Beliau menceritakan semua tentang keseharian Dedy. Dan apa yang kudengar selanjutnya membuat aku semakin tertegun. Ternyata bukan hanya Dedy yang menderita hemofili dalam keluarganya. Dia juga memiliki seorang kakak laki-laki yang telah pergi mendahuluinya saat menduduki bangku SMP. Yang aku tahu, hemofili adalah penyakit keturunan yang ditandai dengan darah yang sukar membeku saat luka, dimana penyakit ini biasanya hanya menyerang laki-laki sedangkan perempuan hanya sebagai pembawa gen. Pada umumnya penderita penyakit ini telah divonis tidak akan mampu melewati umur 16 tahun, tapi Dedy beruntung masih bisa bertahan sampai kelas X SMA.
Setiap malam ibunya pulang balik ke kamar anaknya hanya untuk memeriksa apakah Dedy tidak terbentur atau tergores sesuatu saat tertidur. Sedangkan kami di sekolah dengan leluasa memukul dan mencubit lengannya saat bercanda, tapi dia tidak pernah mengeluh dan memberitahu kami bahwa dia mengidap penyakit mematikan itu. Setiap hari dia selalu bersemangat ke sekolah, debat di kelas adalah favoritnya, matematika sebagai sarapan paginya, menjadi dokter merupakan impiannya, dan dibalik kecerdasan intelektualnya, dia juga memiliki spiritual yang keren. Rajin beribadah di saat anak seusia kami masih banyak yang melalaikan shalat. Dan yang lebih mengagumkan lagi, di tengah teman laki-laki lain yang sedang tergila-gila oleh kecanggihan transportasi, Dedy tidak pernah minta dibelikan motor oleh orang tuanya. Dia lebih memilih jasa tukang ojek untuk mengantarnya ke sekolah dan demi menghemat uang belanja, jalan kaki di tengah terik matahari dari sekolah ke rumahnya sejauh 2 km pun tak menjadi masalah baginya. Dan menjelang ajalnya, dia masih sempat mengagetkan tetangga dan seisi rumahnya dengan suara adzannya yang sangat keras. Subhanallah...
Dedy... Dedy! You are my inspiration, sobat. Sejak saat itulah aku berniat menulis kisah fantastis tentangmu, tapi baru sekarang tersampaikan karena telah didahului  oleh tulisan-tulisan lainnya termasuk novelku yang telah terbit April tahun ini.
Dedy, aku belajar banyak arti hidup darimu. Di tengah takdir yang menantimu, kau tetap tawakkal, tegar, dan terus berusaha menjadi yang terbaik. Aku belajar bahwa hidup itu bukan bagaimana kita berdiam diri untuk menunggu takdir menjemput kita, akan tetapi bagaimana kita berusaha mempersiapkan diri menjemput takdir yang akan datang kepada kita. Karena kematian adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia, maka tanpa ditunggu pun dia akan datang.
Aku sangat berterima kasih dan bersyukur kepada Allah SWT. yang telah mempertemukan aku dengan orang seperti kawanku itu. Dedy, aku yakin kau bisa melihat tulisan ini. Semoga kau bahagia di sisi-Nya. Dan semoga suatu saat nanti kita bisa bertemu di jannah-Nya. Amin..

                                                                              

                                                                                  Didedikasikan untuk:
                                                                                  Alm. Dedy Arman

Jumat, 06 April 2012

SEPUCUK SURAT



Sore ini aku tidak ke lumbung untuk mengumpulkan padi yang tadi siang kujemur bersama pekerja lainnya di desaku. Aku telah meminta izin kepada mandorku. Aku lebih memilih untuk mengunjungi sebuah tempat sepi yang dihiasi dengan batu berukir dan bunga kamboja putih yang setiap harinya mekar. Tempat itu terletak tak jauh dari masjid di kampungku dan biasanya hanya ramai pada saat hari-hari raya umat muslim. Ya benar, aku sedang berada di tempat pemakaman. Aku duduk bersimpuh di depan sebuah nisan sambil mencabut rumput-rumput liar yang mulai menutupi makam itu. Hari ini adalah hari peringatan kematian ibuku.
Tiga tahun silam pada saat aku berusia 14 tahun, tepat pada hari itu aku berada di sekolah dan menanti pengumuman hasil ujian nasional SMP. Aku merasa sudah tidak sabar lagi. Aku ingin segera pulang dan memperlihatkan hasil kerja kerasku kepada ibu selama tiga tahun ini. Akhirnya setelah menunggu selama beberapa menit, hasilnya pun keluar dan diumumkan secara besar-besaran oleh pihak sekolah. Dan kalian tahu, aku mendapat nilai yang memuaskan. Bahkan sangat memuaskan. Aku bukannya ingin pamer, tapi alhamdulillah seperti biasa aku mendapat peringkat satu umum.
Aku sumringah ketika teman-temanku menyalamiku dan memberiku ucapan selamat atas keberhasilanku. Dan aku tetap sumringah ketika bersalaman dengan guru-guruku sampai rasanya gigiku sudah kering karena aku tidak pernah menutup bibirku. Aku sudah tidak sabar memperlihatkannya kepada ibu. Aku berlari pulang ke rumah dari sekolah yang berjarak satu kilometer tanpa pernah berhenti sekalipun untuk beristirahat. Aku merasa sangat bersemangat. Dalam benakku sudah terbayang wajah ibu yang menangis terharu sambil memelukku. Ibu pasti sangat senang dan bangga kepadaku.
Aku pun tiba di rumah. Biasanya jam segini ibu belum berangkat ke sawah. Aku melihat pekarangan, tapi tidak ada tanda-tanda ibu di sana. Mungkin dia sedang memasak di dapur. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Rasanya ada yang aneh dengan suasana di sini. Aku memegang dadaku dan merasakan jantungku yang tiba-tiba berdetak tak karuan. Aku mempercepat langkahku ke arah dapur. Aku memanggil-manggil nama ibu, tapi tak ada jawaban. Aku berbalik dan mencarinya ke kamar, tapi hasilnya masih nihil. Aku mulai khawatir. Saat aku melangkah ke kamar mandi, aku melihat sebuah rambut panjang terurai milik ibu. Aku berlari menghampirinya. Aku meremas jari tanganku dan menggigit bibir bawahku. Astagfirullah al’adzim... Ibuku dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku pun berlari keluar rumah sambil berteriak minta tolong. Beberapa tetangga yang mendengar panggilanku segera menghampiriku. Setelah melihat keadaan ibuku, mereka memutuskan untuk membawanya ke Puskesmas terdekat. Aku menangis dan terus menangis. Seorang perempuan setengah baya bernama Bi Asih sudah mencoba menenangkanku, tapi aku tetap tidak mampu mengontrol emosi dan air mataku. Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar dari rungan ibu dan menyatakan permohonan maafnya. Aku membulatkan mataku. Air mataku mengalir deras bercucuran bersama keringat dan kepedihanku. Aku berlari memeluk ibu dan menciumi pipinya. Aku telah kehilangan malaikatku. Aku telah kehilangan orang yang sangat aku sayangi. Dia adalah satu-satunya keluargaku di dunia ini dan baru saja Allah mengambilnya dariku. Aku berteriak sekencang-kencangnya dan menangis sejadi-jadinya. Aku berharap suatu saat aku bisa membahagiakannya saat aku telah dewasa dan menjadi perawat seperti yang selama ini kucita-citakan. Aku berharap dia memberiku senyum khasnya saat aku memeriksa denyut jantungnya dengan stethoscope, meraba nadinya dan mengukur tekanan darahnya. Aku berharap bisa melakukan semuanya. Tapi kini harapanku telah sirna. Ibuku telah pergi untuk selamanya.
Tak terasa air mataku menetes dan membasahi makam ibu. Kejadian itu sudah sangat lama sekali, tapi aku masih sering menangis saat mengenangnya. Sekarang aku hidup sebatang kara dan sudah bekerja. Tapi bukan sebagai perawat melainkan sebagai buruh tani yang mengais rezeki di sawah orang. Setelah kematian ibu, mau tidak mau aku harus berjuang menghidupi diriku sendiri dan karena alasan ini pula aku putus sekolah. Orang-orang desa yang kasihan melihatku sering memberiku sembako dan bahan makanan lainnya. Karena tidak enak untuk menolak, aku memilih untuk membalas kebaikan mereka dengan bekerja di sawahnya. Dulu semasa hidupnya ibu sering mengajakku ke sawah. Biasanya aku diajari untuk memotong dan menjemur padi. Itu adalah satu-satunya kemampuan yang diturunkan ibu kepadaku. Di balik itu semua, sedikit pun aku tidak pernah sosok seorang ayah. Aku juga tidak pernah menanyakan hal itu kepada itu karena terakhir aku ingin mencari tahu tentang ayah, ibuku menangis sehingga aku mengurunkan niat untuk mengetahuinya lebih lanjut.
Setelah selesai membersihkan makam ibu, aku menaburinya bunga mawar kesukaanku dan berdoa untuk ibuku di surga Allah. Di tengah kekhusyukanku, seseorang memanggilku dari belakang. Ku akhiri doaku dengan kata ‘amin’ lalu kubalikkan kepalaku ke asal suara itu. Bi Asih telah berdiri di belakangku ditemani seorang perempuan yang terlihat asing. Sepertinya dia bukan penduduk desa ini. Itu terlihat dari cara berpakaiannya yang sedikit modern. Bi Asih pun bertanya apakah aku membawa suratnya. Dan aku mengiyakannya. Seminggu setelah kematian ibu dulu aku menemukan sebuah surat di lemari di kamar ibu. Surat itu berisi kalimat yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar bagiku. Surat itu berisi:
Wahai anakku tolong maafkan ibu, Nak. Ibu tidak bermaksud sekejam ini kepadamu, tapi jujur ibu belum siap. Jika tiba saatnya nanti ibu akan datang menjemputmu. Ibu sangat menyayangimu. Ibu harap kau tidak membenci ibu. Ibu mencintaimu. Tunggu ibu, Nak! Ibu akan datang.
Bi Asih tersenyum. “Indah, ibu inilah jawabannya. Dialah jawabannya, Nak.”
“Apa?” tanyaku masih tidak mengerti.
Perempuan yang ditemani Bi Asih itupun mendekat dan langsung memelukku. Di balik kerudungnya aku mendengar dia menangis sesegukan. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku merasa dadaku sesak saat mendengarnya menangis. Rasanya sangat perih. Sama seperti saat aku mendengar ibu menangis dulu.
“Maafkan ibu, Nak!” ucap perempuan itu.
Aku terkejut mendengarnya bekata ‘ibu’. Apa maksudnya? Aku  melepaskan pelukannya dan bertanya kepada perempuan itu.
“Baik, ibu akan menceritakan semuanya. Tujuh belas tahun lalu, ibu datang ke rumah Rahma (nama ibuku). Saat itu ibu datang dengan membawa seorang bayi perempuan mungil yang baru lahir beberapa hari yang lalu. Rahma adalah sahabat lama ibu yang tinggal di desa ini sedangkan ibu sendiri berasal dari kota. Kami berteman saat masih SD dulu. Orang tua Rahma adalah pembantu di rumah ibu. Tapi beberapa tahun bekerja, mereka memutuskan untuk pulang ke desa ini dan membuka warung. Begitupun Rahma di bawah oleh mereka. Beberapa tahun kemudian saat SMA, ibu mengalami kejadian yang sangat memalukan. Ibu hamil di luar nikah. Dan pelakunya adalah pacar ibu sendiri. Dia adalah ayahmu, Indah. Orang tua ibu mengusir ibu dari rumah karena ibu menolak untuk menggugurkan kandungan ibu. Itu semua karena ibu tidak ingin menambah dosa yang telah ibu perbuat. Karena masih kebingungan dengan masa depan kamu, ibu akhirnya memutuskan untuk menitipkan bayi cantik kepada sahabat lama ibu. Sahabat yang sangat ibu percaya. Dia adalah wanita baik yang kamu panggil ibu selama ini, Nak. Dia sangat baik kepada ibu. Ibu bahkan tidak pernah menyangka dia akan pergi secepat ini. Dia telah membesarkan putri ibu hingga tumbuh dewaasa dan cantik seperti ini.”
Aku masih melongo dengan air mata yang tak mampu kubendung. Sangat sakit rasanya mengetahui kenyataan ini. Aku tidak menyesal telah dilahirkan dari perbuatan haram. Aku juga tidak menyalahkan ibuku kandungku yang baru datang sekarang dan mengakuiku sebagai putrinya setelah aku mengalami kehilangan dan penderitaan selama bertahun-tahun. Tapi aku menyesalkan mengapa aku tidak mengetahui kenyataan ini dari awal.
“Mungkin ibumu selama ini tidak menceritakan kisah ini kepadamu karena dia takut jika kau akan membenci ibu kandungmu, Nak.” sambung Bi Asih.
Aku tertunduk lesu kemudian bersimpuh memeluk makam ibu. Aku sangat menyayanginya melebihi apapun. Walaupun aku tidak terlahir dari rahimnya, tapi dia telah membesarkan, merawat dan mendidikku lebih dari sembilan bulan dimana hanya batas itu yang bisa dicapai oleh ibu kandungku. Adzan magrib pun berkumandang. Aku yang tadinya bergelut dengan air mata dan tanah lembab makam ibu sudah berdiri di atas sebuah sajadah bersama ibu yang baru hari ini kukenal. Aku kembali menangis saat mengacungkan tangan untuk berdoa dan mengucap syukur atas semua nikmat yang telah Dia limpahkan kepadaku selama ini. Aku berterima kasih atas kasih-Nya yang telah menghadirkan dua malaikat yang bernama IBU di dalam hidupku. Usai melaksanakan shalat, aku berdiri di dekat jendela dan memandang hampa keluar rumah. Besok pagi aku akan meninggalkan desa ini. Aku akan ikut ibuku ke kota. Di sana aku akan melanjutkan sekolahku dan insya allah akan mengukir kembali pelangi cita-cita dan mimpiku. Aku akan membuat ibuku yang berada di surga bangga dengan membahagiakan ibuku yang berada di dunia. Aamiin.

Rabu, 04 April 2012

KETIKA HATI MEMILIH



CINTA! Siapa yang tak kenal dengan kata itu. Karena cintalah dunia ini tercipta. Karena cintalah Adam dan Hawa dipertemukan. Dan karena cinta pulalah kita dilahirkan. Menelusuri lebih dalam lagi ke naluriah, ‘desir’ itu tak pernah sirna dari hati kita. Manusia! Terlebih lagi kepada Sang Pemilik Cinta. Satu-satunya yang memberi cinta lebih dari yang kita beri.
Kata orang, cinta adalah konsep sepanjang hidup. Jika dicermati memang tak ada salahnya. Sejak manusia pertama diciptakan hingga akhir dunia kelak, cinta adalah satu-satunya yang tidak akan ditenggelamkan oleh zaman. Hanya saja porsinya akan berlebihan dari masa ke masa, tapi tetap akan kembali seperti semula. Karena perjalanan hidup bagaikan roda yang terus berputar, maka cinta pun akan seperti itu. Tak berpenghujung.
“Ya Allah, ukhti! Ana sudah berkali-kali mendengar kalimat-kalimat tentang cinta itu. Apakah ukhti masih belum bosan membacanya setiap hari?” tegurku pada sahabatku.
“Bukankah cinta itu lumrah untuk kita, para manusia? Lagipula cinta adalah konsep sepanjang hidup loh, ukhti.” bela Aina pada dirinya.
“Iya. Ana mengerti. Tapi tidakkah ada pembahasan lain yang dapat kita bicarakan selain hal itu? Rasanya masih terlalu dini membicarakan masalah ‘desir’ itu. Ana takut, jika hal itu membakar hawa nafsu di hati-hati kita (kalangan aktivis dakwah) sehingga zina akan menghujam perasaan, pikiran dan mata kita. Terlebih lagi jika kita sudah membalut hawa nafsu itu dengan kata cinta yang bukan arti sesungguhnya. Tidakkah hal itu bisa menjatuhkan kita dan dakwah kita?”
“Astagfirullah al’adzim.. Ukhti benar. Tapi ukhti terlalu cepat bersu’udzan. Cinta itu tidak terbatas pada apa yang kita lihat sekarang (cinta kepada lawan jenis), tapi makna cinta itu sangat luas bahkan terbentang di sepanjang hamparan sawah, langit khatulistiwa, gemuruh angin, padang ilalang, samudera dan lautan, savana, hutan dan pegunungan serta oase yang memberi kesejukan dan kehidupan kepada gurun pasir yang tandus. Itulah makna cinta, ukhti. Dan tidak menutup kemungkinan akan lebih dari itu. Cinta kepada Allah, Rasulullah, orang tua, keluarga dan yang sedang kubicarakan sekarang adalah cinta kepadamu ukhti!”
Subhanallah! Aku tersentak dan berdecak kagum seraya kupandang Aina dengan senyum yang menyelidik. Sejak membaca buku-buku tentang cinta, sahabatku ini berubah karakter 180 derajat menjadi orang yang sangat puitis.
Aku pun meraih pundaknya. “Ana uhibbukifillah, ukhti (aku mencintaimu karena Allah, saudariku). Afwan telah su’udzan. Sungguh, ana tak bermaksud menyinggung perasaan ukhti. Tapi sekarang, bisakah kita membahas hal lain?” kataku sambil tersenyum kepadanya.
Aina memanyunkan bibiranya kemudian menarik sudut matanya ke atas dan menempelkan jari telunjuk ke dahinya sebagai pertanda bahwa dia sedang berpikir.
“Ukhti! Ukhti Zahra!” teriak seseorang dari belakang.
Aku berbalik dan menatap wajah orang yang memanggilku barusan. Dia tampak kesulitan mengatur pernapasannya. Mungkin karena dia kelelahan setelah berlari.
“Iya, akhi. Ada apa?” tanyaku.
“Afwan ukhti, ana mengganggu!” serunya sambil masih terus menarik napas panjang.
“Na’am, akhi. Tidak apa-apa. Oya, ada yang bisa ana bantu?”
“Iya. Begini ukhti, ba’da ashar nanti kita ada ta’liman di MesKam (Mesjid Kampus). Pematerinya itu adalah teman dari Kak Ditya dan katanya dia berasal dari Jakarta. Kalau tidak salah, dia lulusan sastra Arab di UI. Tapi saya lupa namanya. Dan maksud ana memanggil ukhti tadi karena ana ingin meminta tolong kepada ukhti. Ukhti tolong sebarkan sms mengenai ta’lim ini kepada semua kader akhwat. Ukhti bisa kan?”
“Insya Allah, ana bisa. Tapi kenapa akhi tidak memberitahu ana melalui pesan singkat saja. Itu kan lebih baik daripada harus setengah mati berlari seperti ini?”
“Na’am, ukhti. Sebenarnya tadi ana juga bermaksud demikian, tapi barusan hp ana lowbet. Jadi daripada membuang waktu, lebih baik ana menyampaikannya sekarang kepada ukhti.”
Aku dan Aina tertawa mendengar penjelasan Iwan barusan. Betul-betul ikhwan yang gigih. Iwan adalah teman seangkatan kami di kampus. Pertama kali bertemu pada saat Latihan Kepemimpinan LDK, aku sudah bisa menebak kalau dia adalah ikhwan yang sangat anti melalaikan amanah dan juga yang paling bersemangat diantara kader ikhwan seangkatan kami.
“Baiklah kalau begitu akhi. Kami mohon pamit dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.”
Aku dan Aina kembali melanjutkan perjalanan pulang kami yang sempat terhambat tadi. Aku melirik Aina yang berjalan menunduk sambil tersenyum. “Ukhti kenapa?” tanyaku.
Aina berbalik dan menanggapiku santai. “Tidak ada apa-apa, ukhti.”
Aku mengernyitkan kening. Aku kembali melihatnya dan dia masih tersenyum sendiri. Aku tahu apa yang membuatnya seperti itu, batinku. Hanya saja aku tidak ingin membicarakannya karena kutahu itu akan menimbulkan zina hati yang amat besar. Sekali lagi aku tidak ingin melibatkan diri. Dan juga sahabatku.
Setelah sampai di rumah segera kusebar jarkom mengenai acara ta’liman nanti. Tak lama berselang, ponselku berbunyi. Kulihat layar ponselku. Ada pesan dan pengirimnya menggunakan nomor baru.
Assalamu’alaikum, ukhti. Afwan mengganggu. Ana ingin meminta tolong kepada ukhti dan ana harap ukhti bersedia membantu. Tolong ukhti persiapkan makanan untuk pemateri ta’lim nanti ya. Jazakillah. Ditya.
Aku tertegun sebentar. Kak Ditya mengirimiku pesan? Baru kali ini ikhwan itu menghubungiku. Pantas saja yang masuk nomor baru. Tunggu! Dari mana dia mendapat nomorku? Apakah dia berusaha mencari tahu? Atau mungkin dia salah nomor. Yang benar saja. Apakah..? Ah, kurasa tidak mungkin. Wajar saja kan? Dia hanya ingin meminta tolong. Tidak ada hal aneh yang perlu dikhawatirkan. Ya Allah, batinku sedang berkecamuk.
Kalian tahu kenapa aku begitu tegang dan gugup setelah menerima pesan dari Kak Ditya? Karena diantara seluruh ikhwan senior hanya dia yang belum pernah menghubungiku. Jangankan sms, bertegur sapa saja seingatku hanya sekali. Setelah itu usai. Dan diantara beberapa ikhwan senior, dialah yang paling ‘dikagumi’ oleh para akhwat. Semua perilaku dan tingkahnya menjadi pembicaraan harian mereka, bahkan yang bukan kader sekalipun. Ya, kutahu ini tidak layak dipublikasikan. Tapi kurasa aku juga ‘sedikit mengagumi’ karakternya yang agak cuek dan berwibawa.
Aku segera membalas sms-nya. Walau kuyakin sebenarnya tidak pantas juga  menggunakan kata segera karena aku baru membalasnya 30 menit setelah berputar-putar sebentar dengan otak, pikiran dan prasangkaku.
Wa’alaikumsalam. Na’am akhi. Insya Allah, ana akan siapkan. Sebelumnya, ana waiyakum.
Selama beberapa menit aku menunggu balasannya, tapi aku yakin dia tidak akan membalas pesanku. Dan ternyata, dugaanku benar. Aku pun segera membersihkan diri lalu mengambil air wudhu untuk shalat ashar. Setelah itu aku harus memesan cathering untuk pemateri.
* * * * *
Aku tiba 15 menit sebelum acara dimulai. Alhamdulillah, kuantitas akhwat yang hadir masih banyak seperti biasanya. Semangat mereka memang patut diacuni jempol. Walaupun sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan pelajaran untuk persiapan semester, mereka tetap menyempatkan diri untuk bermajelis ilmu agama dengan ikhwafillah yang lain. Inilah salah satu hal yang membuatku bangga menjadi bagian dari mereka. Meski terus berjuang dengan urusan dunianya, tapi mereka tidak pernah melalaikan urusan akhiratnya. Ya Allah, ukhuwah yang kami jalin. Semoga selamanya. Aamiin, doaku dalam hati.
“Aku tidak boleh kalah dengan mereka. Walaupun urusan skripsi dan ujian mejaku belum selesai, bukan berarti aku tidak bersemangat lagi ikut ta’lim.” lirihku sembari tersenyum.
Ku jejakkan langkahku memasuki ruangan masjid dan tak lupa memberi salam untuk ukhtifillah yang ada di sana. Aina belum juga datang. Aku mencoba menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Ada apa sebenarnya?
Pemateri sudah datang sekitar 5 menit yang lalu. Mikrofon dinyalakan dan moderator membuka acara dengan doa kafaratul majelis. Dan saat curriculum vitae pemateri dibacakan, aku mendengar nama yang tak asing di telingaku.
Khairul Mushab. Apakah itu..? Ah, tidak mungkin dia. Aku yakin! Pemateri pun membuka ceramahnya. Ya Allah, suara itu? Dia benar Kak Khairul yang kucurigai tadi. Kak Khairul, kakak kelasku waktu SMA. Aku tersenyum haru dan hormon adrenalinku kembali memacu jantungku untuk berdenyut lebih cepat lagi.
Hari itu adalah hari dimana siswa-siswi kelas XII SMA 2 sedang merayakan kelulusannya. Saat acaranya usai, aku mendapat telpon dari seseorang dan orang itu Kak Khairul. Katanya ada sesuatu penting yang ingin dia bicarakan denganku. Saat itu aku adalah juniornya yang duduk di bangku kelas XI IPA 2. Setelah menutup telponnya, entah mengapa aku merasa gugup dan muncul perasaan tak tenang di hatiku. Aku mulai tersenyum sendiri. Apakah ini..?
Aku mencoba menepis rasa itu. Tidak mungkin dan belum saatnya. Kuteguhkan hati untuk menemui seniorku itu di taman belakan sekolah. Waktu itu, aku masih amma (belum paham agama) sehingga aku menemuinya sendirian dan setelah tiba di sana, aku pun melihatnya juga sendirian. Dia tersenyum dan aku membalasnya dengan sedikit gugup. Dia mempersilahkanku duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon mangga. Kami duduk berdua. Tentu saja jaraknya tidak sedekat yang kalian kira (jangan su’udzan ya!). Hehehehe. Lama kami terdiam, akhirnya Kak Khairul membuka pembicaraannya.
“Hmm... Bagaimana dengan ujianmu?” tanya Kak Khairul dengan nada terbata-bata.
Apa? Dia memanggilku hanya untuk menanyakan itu?, batinku sedikit kecewa. “Yah, baik kak. Kakak sendiri bagaimana? Saya dengar kakak kembali menduduki peringkat 1 umum ya?”
Kak Khairul tersenyum. Dia tersenyum kepadaku. “Gosip begitu cepat tersebar ya? Tapi Alhamdulillah, aku masih diberi kesempatan untuk menduduki posisi itu. Kau sendiri masih menjadi yang terbaik juga kan?”
“Alhamdulillah, aku juga masih diberi kesempatan untuk menduduki posisi itu.” kataku mengutip kalimat Kak Khairul.
Setelah mendengar ucapanku, dia pun tertawa dan aku ikut tertawa bersamanya. Tak lama berselang, kebisuan kembali menyelimuti suasana tenang di taman itu. Hanya terdengar suara burung yang bercakap-cakap di ranting pohon dan suara gemericik air di kolam ikan. Tiba-tiba ponselku berdering. Aku menerima pesan singkat dari Aina. Oh, dia memang sahabat terbaikku. Kami berteman dari awal masuk SMA sampai ke bangku perkuliahan. Aku tersentak membaca sms-nya. Mataku membulat.
“Maaf kak, saya harus pulang. Ada teman saya yang mengalami kecelakaan.”
“Innalillah. Baiklah kalau begitu. Tapi... apa perlu kuantar?”
Jantungku kembali berdegup tak karuan. Ada perasaan bahagia di hati kecilku. Aku pun tersenyum. “Tidak usah, kak. Saya akan pergi bersama Aina. Kalau begitu, saya pulang dulu.”
Aku segera mengambil ranselku dan berlari meninggalkan Kak Khairul yang masih terpaku menatapku. Di ujung koridor, langkahku terhenti. Aku berbalik dan tersenyum kepada seniorku itu. “Terima kasih atas penawarannya kak!” kataku seraya menunduk.
Sebagai balasannya, aku mendapat senyuman dan lambaian tangan darinya. Aku senang dan tanpa kuduga, itulah terakhir kalinya aku bertemu dengannya sebelum kudengar kabar bahwa dia dinyatakan lulus di jurusan Sastra Arab, UI. Dan dia memilih untuk kuliah di sana.
Dan hari ini, aku kembali mendengar suaranya di balik hijab sana. Tapi sekarang, tak mungkin aku menemuinya seperti dulu lagi. Apalagi dia bukan mahromku dan pertemuan seperti itu sama sekali tidak dibenarkan oleh agama. Aku menggigit bibir bawahku menyesalkan pertemuan yang dulu itu.
“Menurut ukhti, apa tanggapan Kak Khairul setelah melihat perubahan ukhti?” kata seseorang di dekat telingaku.
Aku terkejut dan berbalik. Kubulatkan mataku karena heran. “Aina?”
“Iya ukhti.” jawabnya santai seperti biasa.
“Sejak kapan ukhti di sini?” aku balik bertanya.
“Sejak tadi. Apakah benar, dia Kak Kha...” aku langsung menutup mulut Aina dan menahannya cukup lama. Karena takut dia berontak, aku pun melepaskannya. Kulihat dia agak kesulitan mengatur pernapasannya.
“Afwan ukhti. Ana tidak bermaksud melakukan hal ini kepada ukhti, tapi tolong mengerti. Tak seharusnya kita membahas hal seperti ini di tempat suci ini.” jelasku.
Aina menatapku sebentar kemudian menunduk. Aku pun mengusap pundaknya dan tersenyum.
Ta’lim selesai tepat pada pukul 17.30 WITA. Aku dan Aina memutuskan untuk shalat maghrib di Meskam saja. Setelah shalat, kami berdua akan langsung pulang. Ketika memasang sepatu di teras Meskam, aku melihat Kak Ditya dan Kak Khairul keluar dari pintu Meskam sambil bercakap-cakap. Aku menatapnya sekilas dan dia pun tanpa sengaja berbalik. Aku dan Aina tersenyum kepadanya sedangkan dia mengerutkan kening dan menghampiri kami. “Assalamu’alaikum. Afwan, apakah bettul ukhti berdua ini adalah Zahra dan Aina.” tanyanya.
“Wa’alaikum salam. Iya betul, akhi.” Aina yang menjawab.
“Suhanallah.. Ana tidak menyangka kita akan bertemu lagi di tempat ini.”
Aku dan Aina kembali tersenyum. Akhi Ditya pun mendekati kami. Ya Allah, jantungku berdegup lagi. “Afwan. Kalian sudah saling kenal?” tanya Kak Ditya kepada kami.
“Na’am akhi. Beliau adalah senior kami di SMA dulu.” kali ini aku yang menjawab. “Kalau begitu, kami permisi pulang dulu akhi. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab Kak Khairul dan Kak Ditya bersamaan.
Di jalan, aku dan Aina sama sekali tidak berminat membahas masalah yang tadi. Kami hanya berdiam diri satu sama lain. Aku sendiri sedang bertanya-tanya, apakah perasaanku yang dulu telah kembali? Dan jawabannya, hampa.
Keesokan harinya aku kembali dikejutkan oleh pesan singkat dari murabbiku yang menginstuksikan adanya tarbiyah mendadak. Setelah berkumpul di meskam, beliau kemudia bercerita bahwa ada seorang ikhwan telah mengajukan proposal kepada seorang akhwat di kelompok kami. Aku dan Aina tercengang, begitupun teman-temanku yang lain. Jantungku mengamuk lagi.
“Zahra!” murabbiku menyodorkan proposal itu kepadaku.
Mataku membelalak. Semua mata tertuju kepadaku. Astagfirullah al’adzim, murabbiku ini memang tidak berbakat berbasa-basi. Aku membuka proposal itu perlahan dengan tangan gemetar. Aku menghembuskan napas berat. Benar namaku yang tertulis di dalam sana. Seketika aku merasa badanku lemas. Aku memandang murabbiku yang sedang tersenyum manis kepadaku. Itu artinya tidak boleh ada penolakan. Kesepakatan kami, niat baik seorang ikhwan tidak boleh ditolak. Tapi yang menjadi permasalahannya, skripsiku belum kelar dan tinggal dua bulan lagi ujian meja. Dan selanjutnya aku harus menjalani serangkaian acara ta’aruf. Ya Allah...
“Kak Ditya?” ucap Aina mengagetkanku.
“Apa?” aku buru-buru merebut proposal itu dari tangan sahabatku. Yang benar saja, aku belum sempat membaca nama ikhwan yang mengajukan proposal itu. Aku menelan air liurku yang terasa sangat pahit. Kepalaku berputar, perutku melilit, otot-ototku menegang dan mataku meneteskan air mata haru. Teman-temanku berhambur memelukku.
“Selamat ya, ukhti. Ukhti beruntung sekali mendapatka ikhwan sebaik akhi Ditya.” kata-kata itulah yang tidak berhenti terucap dari mulut mereka.
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Entah apa yang berkecamuk di pikiranku saat ini. Di satu sisi aku merasa menjadi perempuan yang paling beruntung bisa dilamar oleh ikhwan yang banyak dikagumi para akhwat, tapi di sisi lain pikiranku tertumpu pada sosok yang sempat menarik hatiku. Ikhwan yang kutemui kemarin, Kak Khairul.
Malam itu mataku tidak bisa terpejam. Sampul kasurku sudah lusuh karena terus kutarik-tarik daritadi. Besok pagi aku harus memberi keputusan dan tadi aku telah membicarakannya dengan kedua orang tuaku. Mereka mengatakan setuju dan selanjutnya terserah aku. Ya Allah.. Aku pusing.
Ponselku berdering. Aku melihatnya, nomor baru lagi. “Halo, assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam. Afwan, bisa bicara dengan ukhti Zahra?”
“Iya, ana sendiri. Ini dengan siapa?”
“Ana, Khairul.”
Apa? Aku serasa tercekik.
“Halo? Apakah ukhti masih mendengar ana?”
“Na’am. Kalau boleh tahu, ada apa akhi menelpon malam-malam begini?”
“Afwan mengganggu sebelumnya. Ada yang ingin ana katakan kepada ukhti.”
Ya Allah, dadaku semakin sesak. Zinakah yang kulakukan ini? Bagaimana ini? Seseorang telah bersedia membayar maharku, pantaskah jika aku mempermainkannya? Tapi bagaimana dengan perasaanku kepada orang yang satunya lagi? Akhir-akhir ini aku memang merasa ada yang aneh setiap kali bertemu dengan Kak Ditya dan kupikir aku juga mulai menyukainya. Yah, suka dalam arti yang sesungguhnya. Tapi orang ini, kenapa dia harus muncul lagi? Apa yang harus aku lakukan, ya Allah?
“Halo? Halo, ukhti.”
“Eh, afwan akhi. Sebelumnya ana juga ingin menyampaikan sesuatu kepada akhi.” kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku.
“Kalau begitu, ukhti bicara saja duluan.”
Aku menarik napas panjang. “Sahabat akhi mengajukan proposal ta’aruf kepada ana. Akhi Ditya.”
Ya Allah, apakah aku melakukan kesalahan. Sempat terdengar suara keterkejutan dari Kak Khairul. Maaf kak, tapi cintaku sekarang bukanlah untukmu, batinku perih.
“Oh, begitu. Alhamdulillah. Oya kalau dari saya sendiri, insya Allah besok pagi saya akan kembali ke Jakarta.” katanya gugup.
“Kalau begitu, akhi hati-hati. Ana titip salam untuk om dan tante juga Kak Liska.”
“Na’am. Ukhti, saya titip akhi Ditya ya. Jika tiba waktunya untuk akad nikah, jangan lupa undang ana.”
Aku tertawa. Entah mengapa aku bisa tertawa di tengah sakit seperti ini. “Insya Allah akhi. Ana minta doanya.”
“Aamiin. Semoga Allah tetap memberikan yang terbaik untuk kita.”
Yah, Allah memang telah menakdirkan yang terbaik untuk kita. Dan takdirku bukanlah engkau akhi.
“Baiklah. Sepertinya kita harus menyudahi pembicaraan kita. Ana juga harus istirahat untuk persiapan perjalanan besok. Assalamu’alaikum, ukhti.”
“Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Aku menutup telponku dengan berlinang air mata. Inilah jalan yang telah kupilih. Aku tidak akan menyesal.
Dalam jangka dua bulan, skripsiku akhirnya selesai. Aku teha melalui tahap walimahan dengan Kak Ditya dan ujian mejaku pun telah usai. Tiga hari setelah wisuda, kami akan melangsungkan akad nikah di Mesjid Agung Makassar. Kemudian resepsi di rumah kami masing-masing. Dan selama dua bulan itu juga, aku mendapat kabar yang cukup mengejutkan dari Kak Khairul. Katanya setelah sampai di Jakarta, orang tuanya tiba-tiba memperkenalkannya dengan seorang gadis cantik dan alim. Gadis itu adalah anak dari teman ayahnya yang dijodohkan dengannya. Dan mereka telah melangsungkan pernikahannya mendahului kami. Selain mengejutkan, kupikir ini cukup menjadi kabar bahagia buatku. Kenapa? Karena jika aku membiarkan Kak Khairul menyatakan tujuannya malam itu, maka dia akan pusing karena harus dihadapkan pada dua pilihan. Dan aku sangat bersyukur Allah tidak memberi kami cobaan rumit itu. Semuanya indah seperti air yang mengalir tenang di sungai-sungai.
Resepsi pernikahan pun tiba. Kak Khairul datang didampingi istrinya yang sangat cantik, seperti model. Dia memang akan menyesal jika menolaknya. Hehehehe.
“Ciyeee.. Selamat ya. Akhirnya kesampaian juga cita-cita ukhti Zahra selama ini.” canda Aina saat bersalaman denganku.
“Maksudnya?” tanya Kak Ditya penasaran.
“Iya akhi. Istrimu ini sudah lama mengidamkan bersanding dengan akhi.” jawab Aina spontan sampai membelalakkan mataku. Menurutku, dia agak tidak sopan dan sangat to the point.
Setelah mendengar jawaban itu, aku merasa Kak Ditya melirikku sambil tersenyum. Senyum misteri itu lagi. Entahlah aku sendiri tidak berani menatapnya karena malu memperlihatkan wajahku yang bersemu merah lagi. Ternyata Kak Ditya dapat membaca ketidaknyamananku. Dia pun balik mencandai Aina. “Yah, ana rasa.. Waktu untuk ukhti juga akan tiba.”
Aina mengerutkan keningnya diikuti aku yang juga kaget mendengar pernyataan itu. “Maksud akhi, apa?” tanya Aina.
Kak Ditya menjawab lagi, “Insya Allah, akhi Iwan akan segera mengajukan proposal!”
“Apa?” Aina tersentak. Sangat tampak keterkejutan yang nyata dari raut wajahnya. “Benarkah?” lirihnya kembali.
Aku dan suamiku hanya tertawa mengamati sekaligus menanggapi ekspresi luar biasa dari wajah sahabatku itu. Yap, satu sama. Suara berdehem tiba-tiba membuyarkan keseruan kami. Aku, Aina dan Kak Ditya berbalik ke sumber suara itu. Masya Allah. Antriannya panjang sekali. Aina kembali menunduk malu. Dia yang menyadari bahwa dirinyalah penyebab dari antrian itu segera menggeser kakinya beberapa langkah kemudian berjalan meninggalkan kami. Aku sempat melihatnya di samping ibuku dan beberapa saat kemudian dia menghilang diantara kerumunan tamu yang sedang mengambil makanan. Aku tersenyum di dalam hati. Beribu pertanyaan pasti sedang melayang-layang di kepala Aina saat ini. Sepertinya, ada yang tidak akan tidur nyenyak malam ini. Hehehehe.
Aku berbalik menatap suamiku. Murabbiku benar. Untuk mendapatkan pemimpin dan pendamping hidup yang baik, kita tidak perlu mendahului takdir kita (pacaran) karena Allah telah menyediakan yang terbaik untuk kita sejak lahir. Hanya saja kita perlu menunggu sejenak sampai tiba saatnya. Seperti kuncup bunga yang akan mekar saat mentari menyinarinya, pelangi yang akan muncul setelah hujan reda, dan kepompong yang akan berubah menjadi kupu-kupu cantik. Semua telah diatur dan semua akan indah pada waktunya. Jadi pastikan kita memilih takdir yang baik. (^_^)